Permintaan Kerupuk Kuning Meningkat 100 Persen Saat Ramadan
Mediabogor.co, – BOGOR – Bulan Ramadan membawa berkah tersendiri bagi para produsen kerupuk kuning. Pasalnya, permintaan kerupuk kuning sebagai teman makan saat berbuka puasa meningkat di pasaran.
Salah satu produsen kerupuk kuning di Kampung Kaumpandak RT 03 RW 11, Karadenan, Cibinong, Kabupaten Bogor kebanjiran order tambahan sejak awal Ramadan dari pada hari biasanya sebelum Ramadan.
Usaha rumahan tersebut biasanya dalam sehari dapat memproduksi hingga 3 Quintal kerupuk kuning atau dalam hitungan penjualan dapat memproduksi dan memasarkan 70 hingga 80 bal kerupuk dalam satu hari.
Memasuki Ramadan, permintaan semakin meningkat hampir 100 persen dari hari biasanya. “Kalau bulan Ramadan itu bisa tambah 50 sampai 70 bal seharinya. Jadi maksimal 120 bal perhari, iya hampir 100 persen tambah permintaannya,” kata Edwin, salah satu pengelola produksi kerupuk kuning.
Untuk 1 bal penjualan kerupuk yang biasa disantap bersama asinan itu dihargai Rp60 ribu/bal atau berkisar 4 kilogram kerupuk mentah. Meski meroketnya jumlah pemesanan, namun tidak berdampak terhadap harga di pasaran.
“Kita tetap jual 60 ribu untuk 1 bal walau bulan Ramadan, biasa dipasarkan di Cibinong, Jakarta sampai Cilegon. Tahun lalu juga harga tetap sama kita jual di pasaran, jadi tidak berubah,” jelasnya.
Menurutnya, banyak bertambahnya jumlah pesanan tidak terlepas dari masyarakat yang menjadi pedagang musiman saat Ramadan. Mereka biasa menjual kembali kerupuk kuning sebagai santapan tambahan untuk menu berbuka puasa.
“Biasanya kalau udah masuk bulan puasa seperti ini itu kan banyak masyarakat yang tadinya tidak berdagang, jadi berdagang. Mereka jual makanan yang pakai kerupuk kuning, nah ini jelas membuat permintaan dipasaran juga bertambah,” bebernya.
Ia juga menjelaskan, situasi pandemi Covid-19 tidak berdampak terhadap produksi. Para pekerja tetap bekerja setiap harinya dan tidak berdampak terhadap penjualan.
“Bulan Ramadan tahun lalu pun sama, banyak pesanan. Hampir sama seperti sekarang cuman lebih sedikit jumlahnya karena kan tahun lalu masyarakat mungkin masih pada takut beli-beli takjil keluar rumah,” sambungnya. (Mail)
Berikan Komentar